Aku jatuh cinta kepadamu bukan dengan cara yang gaduh, melainkan dengan tenang yang tumbuh setiap hari. Dalam tanggung jawab yang kau pikul dan lelah yang jarang kau ceritakan, aku melihat cinta bekerja dengan caranya sendiri. Terimakasih sudah menjadi pemimpin dalam doa, pelindung dalam diam, dan rumah dalam segala cuaca. Jika kelak rambut kita memutih dan langkah tak lagi secepat sekarang, aku ingin tetap menggenggam tanganmu karena bersamamulah aku memilih pulang, lagi dan lagi.
Cintaku padamu bukan sekedar rasa, melainkan ikrar yang tumbuh dalam keseharian. Pada langkahmu yang lelah aku belajar sabar, pada doamu yang lirih aku belajar percaya. Kau mungkin tak selalu berkata manis, tapi caramu bertahan dan memilih tetap pulang adalah puisi paling jujur yang pernah kuterima. Jika hidup memberi kita ribuan alasan untuk menyerah, izinkan aku memilihmu sekali lagi setiap pagi, dalam doa sampai akhir usia.
Aku mencintaimu sebagaimana doa menemukan jalannya menuju langit tenang, yakin dan penuh harap. Dalam setiap langkah yang kau niatkan karena Allah, aku belajar arti bersandar dan percaya. Kau amanah yang kupeluk dengan syukur, tempat aku belajar sabar, ikhlas, dan setia. Jika kelak usia menua dan dunia tak lagi ramah, izinkan aku tetap menggenggam tanganmu bersama kita pulang dalam ridha-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar